ads head

Advertisement

Senin, 23 September 2019

Pengertian linguistik, Manfaat Linguistik, Keilmiahan Linguistik, dan Analisis Linguistik


ISTIGHOTSATUL KHOIRIYAH (B0516021)
LINGUISTIK UMUM (Drs. ABDUL CHAER)
PENGERTIAN LINGUISTIK
Secara populer orang menyatakan linguistik sebagai ilmu tentang bahasa atau suatu ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya.
·      Linguistik menurut Martinet (1987:19) telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.
Kata linguistik (berpadanan dengan linguistics dalam bahasa Inggris, linguistique dalam bahasa Prancis dan linguistiek dalam bahasa Belanda) diturunkan dari bahasa Latin lingua yang berarti “bahasa”. Dalam bahasa Roman atau  bahasa yang berasal dari latin ditemukan kata yang serupa, antara lain lingua dalam bahasa Italia, lengue dalam bahasa Spanyol, langue dan langage dalam bahasa Perancis. Language sendiri di adopsi bahasa Inggris dari langage Prancis.
Langue dan langage dalam bahasa Prancis memiliki makna yang berbeda.
·         langue berarti suatu bahasa tertentu, langue mengacu pada sistem bahasa tertentu jadi bersifat lebih abstrak
·         langage adalah sistem bahasa secara umum, jadi sifatnya paling abstrak.
Disamping kedua istilah tersebut Perancis masih punya istilah lain yaitu
·         parole, maksudnya adalah bahasa dalam wujudnya yang nyata, yaitu yang berupa ajaran. Parole/ujaran adalah wujud bahasa yang konkret, digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

 Pakar linguistik disebut linguis (Inggris linguist). Namun perlu diperhatikan dalam bahasa Inggris kata linguist memiliki 2 buah penafsiran.
1.      Ahli linguistik
2.      Orang yang fasih dalam beberapa bahasa.
Ilmu linguistik sering disebut linguistik umum (general linguistics). Artinya ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, misal bahas Arab, bahasa Jawa melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, bahasa yang menjadi alat interaksi sosial milik manusia.
Bahasa-bahasa di dunia ini selain memiliki banyak perbedaan juga ada pula persamaan. Ada ciri-cirinya yang yang universal dan hal seperti itulah yang diteliti oleh linguistik. Maka karena itulah linguistik sering dikatakan bersifat umum; dan karena itu pulalah ilmu ini biasa disebut linguistik umum.
Selain linguistik, ada pula ilmu atau disiplin lain yang menjadikan bahasa sebagai objek kajian, misalnya ilmu susastra, ilmu sosial, psikologi dan fisika. Namun ada perbedaan antara linguistik dan ilmu-ilmu tersebut dalam menangani objek kajiannya yaitu cara pandang dan pendekatan terhadap bahasa itu sendiri.
·         Ilmu susastra memandang bahasa sebagai wadah seni, sebagai sarana mengungkapkan karya seni.
·         Ilmu sosial/ sosiologi memandang bahasa sebagai alat interaksi sosial di didalam masyarakat.
·         Psikologi mendekati dan memandang bahasa sebagai gejala pelahiran jiwa.
·         Fisika memandang bahasa sebagai fenomena alam, sebagai gelombang bunyi yang merambat dari mulut pembicara ke telinga pendengar.
·         Sedangkan linguistik mendekati dan memandang bahasa sebagai bahasa. Bukan sebagai “sosok” yang lain.

KEILMIAHAN LINGUISTIK
Agar bisa dikatakan sebagai kegiatan ilmiah, disiplin ilmu harus melalui tiga tahapan perkembangan
1.      Spekulasi, tahapan pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilakukan tanpa prosedur-prosedur tertentu.
2.      Observasi dan klasifikasi, mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Tahap ini belum bisa dikatakan ilmiah sebab belum sampai pada penarikan kesimpulan.
3.      Perumusan teori, memahami masalah-masalah dasar dengan mengajukan pertanyaan mengenai masalah tersebut berdasarkan data empiris yang di ada, kemudian dirumuskanlah sebuah hipotesis.

Sebagai ilmu yang empiris, linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu linguistik sering disebut ilmu nomotetik. Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya, linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.
Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa dan dapat dijabarkan dalam konsep sebagai berikut :
1.    Bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah bahasa yang primer dan bahasa tulis hanya sekunder.
2.    Bahasa besifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.
Pendekatan terhadap bahasa yang dilakukan oleh peneliti dahulu tidak melihat bahwa setiap bahasa mempunyai keunikan atau ciri khas masing-masing, meskipun diakui ada juga kesamaan-kesamaan sistem antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain.
3.        Bahasa adalah suatu sistem. Maka linguistik memandang bahasa sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan atau disebut pendekatan struktural. Lawannya disebut pendekatan atomistis atau berdiri sendiri.
4.        Bahasa bersifat dinamis. Oleh karena itu linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Sinkronik adalah melakukan telaah terhadap dua bahasa atau lebih dalam waktu yang bersamaan, bersifat horizontal dan menggunakan perbandingan unsur-unsur bahasa yang ada, yaitu unsur fonemis, marfologis, sintaksis). Diakronik adalah melakukan telaah terhadap dua bahasa atau lebih pada waktu yang berbeda, maksudnya telaah didasarkan pada perkembangan waktu yangsudah berbeda, kajian ini bersifat horizontal, dan dilakukan dengan membandingkan perubahan dan perkembangan dari bahasa yang dikaji tersebut.
5.        Pendekatan bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif.

SUBDISIPLIN LINGUISTIK.
Pengelompokan nama-nama subdisiplin linguistik berdasarkan
1.      Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.
·         linguistik umum ,mengkaji kaidah-kaidah secara umum
·         linguistik khusus, mengkaji kaidah bahasa-bahasa tertentu
2.      Objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.
·         linguistik sinkronik/deskriptif, mengkaji bahasa pada masa yang terbatas
·         linguistik diakronik, mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas. Bersifat historis dan komparatif dan bertujuan untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.
·         Hasil kajian diakronik diperlukan untuk menjelaskan deskripsi studi sinkronik.
3.      Objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai fakor diluar bahasa.
·         mikrolinguistik, mengkaji struktur internal bahasa tertentu atau strukturr internal bahasa pada umumnya.
·         subdisiplin mikrolinguistik :fonologi, morfologi,sintaksis, semantik dan leksikologi, morfosintaksis dan leksikosemantik.
·         makrolinguistik, menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor diluar bahasa.
·         Subdisiplin makrolinguistik :
ü  Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.
ü   Psikolinguistik:mempelajari hubungan bahasa dengan prilaku dan akal budi manusia.
ü   Antropolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.
ü   Etnolinguistik
ü  Stilistika: mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.
ü   Filologi: mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa.
ü   Dialektologi: mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam wilayah tertentu.
ü   Filsafat bahasa: mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptualdan teoritis linguistik.
ü  Neurolinguistik.
4.      Tujuan pengkajiannya untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan.
·         Linguistik teoritis : untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya.
·         Linguistik terapan : untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat.
5.      Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.
·         Linguistik tradisional
·         Linguistik struktural
·         Linguistik generatif semantik
·         Linguistik relasional
·         Linguistik sistemik.

ANALISIS  LINGUISTIK
Dilakukan terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

STRUKTUR, SISTEM dan DISTRIBUSI
Ferdinand de Saussure dalam bukunya Course de Linguistique Generale membedakan adanya dua jenis relasi dalam satuan bahasa, yaitu
·         Relasi sintagmatik, hubungan yang terdapat antara satuan bahasa dalam kalimat yang konkret tertentu. Hubungan ini bersifat linear atau horizontal antara satuan yang satu dengan satuan yang lain.
·         Relasi asosiatif, hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan suatu kalimat.
Oleh Louis Hjelmslev seorang linguis Denmark istilah asosiatif diganti dengan istilah paradigmatik (hubungan yang berlaku dalam semua tataran bahasa).
Firth seorang linguis inggris menyebut hubungan sintagmatik dengan istilah struktur dan hubungan paradigmatik dengan istilah sistem.
Menurut Verhaar istilah struktur dan sistem lebih tepat untuk digunakan karena istilah tersebut dapat diterapkan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon.
            Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, alofonis, morfemis dan sintaksis.
            Sistem pada dasrnya menyangkut dalam masalah distribusi. Distribusi adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.Umpamanya, konstituen dia dalam kalimat Dia mengikut ibunya dapat disubstitusikan dengan konstituen Ali, anak itu atau mahasiswa itu. Dan macam-macam substitusi ada 3, yaitu substitusi fonemis , morfemis, dan sintaksis (menysngkut masalah penggantin kata dengan kata, frase dengan frase atau klausa dengan klausa lainnya).

ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG
Sering disebut dengan analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat (Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsusr-unsur atau konstituen yang membangun suatu bahasa.
Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan dari dua buah konstituen yang langsung  membangun satuan itu. Misalnya kata dimakan unsur langsungnya adalah di dan makan.           Tapi contoh itu tidak ada masalah berbeda dengan satuan bahasa yang lebih kompleks yang akan menimbulkan perbedaan analisis. Contoh kontruksi Guru baru datang. Konstituen baru dapat ditafsirkan lebih dahulu bergabung pada konstituen guru, tetapi bisa juga pada konstituen datang.
            Meskipun teknik analisis ini banyak kelemahannya, tetapi juga cukup memberi manfaat dalam menghindari keambiuan karena satuan satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat di pahami dengan analisis tersebut.

ANALISIS RANGKAIAN UNSUR DAN ANALISIS PROSES UNSUR
Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk dari unsur- unsur lain. Misalnya satuan tertimbun terdiri dari ter- + timbun.
Analisis proses unsur menganggap setiap satuan adalah merupakan hasil dari proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

MANFAAT LINGUISTIK
Bagi linguis pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya.
Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya sastra dengan lebih baik, karena bahasa merupakan wadah pelahiran karya.
Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya berkenaan dengan morfologi, sintaksis maupun semantik saja melainkan juga berkenaaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik.
Bagi leksikografer  menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan agar dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dalam penyusunan kamus dia harus mulai dengan menentukan fonem fonem bahasa, menentukan ejaan, memahami seluk beluk kata, makna leksikal,  makna idiomatikak serta latar belakang sosial bahasa tersebut.
Bagi penyusun buku pelajaran dapat dijadikan tuntunan agar dapat menyusun kalimat dengan tepat, menentukan kosa kata yang tepat sesuai jenjang usia pembaca buku tersebut.
Bagi negarawan atau politikus yang harus memperjuangkan ideologi dan konsep kenegaraan atau pemerintah, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Jika politikus atau negarawan menguasai masalah lingistik dan sosiolinguistik makan dalam kaitannya dengan kemasyarakatan tentu dia dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat perbedan dan pertentangan bahasa.

Filsafat Wahyu dan Nabi menurut pandangan Ibnu Sina

Pentingnya gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan.

Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal  intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi - nabi.

Jadi wahyu dalam pengertian teknis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol – simbol. Namun sejauh mana wahyu itu mendorong ?. Kecuali kalau nabi dapat menyatakan wawasan moralnya ke dalam tujuan – tujuan dan prinsip – prinsip moral yang memadai, dan sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum dan seorang negarawan tertinggi – memang hanya nabilah pembuat hukum dan negarawan yang sebenarnya.

Minggu, 22 September 2019

Filsafat Jiwa menurut pandangan Ibnu Sina


Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku - buku yang khusus untuk soal - soal kejiwaan ataupun buku - buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.

Memang tidak sukar untuk mencari unsur - unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang kejiwaan, seperti pikiran - piiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama pikiran- pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian sendiri atau pikiran - pikiran yang sebelumnya, baik dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika.

Dalam segi fisika, ia banyak  memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika terdapat kedalaman dan pembaharuan yang menyebabkan dia mendekati pendapat - pendapat filosof modern[16].
Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir Arab sejak abad ke sepuluh Masehi sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot[17].

Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa. Sebagaimana Al-Farabi, ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaekat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.

Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan – akan tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham wahdat al-wujud (kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan. Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.

Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifat Tuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau al-faidh. Lebih dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi[18].

Menurut al-Farabi, Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada[19]. Berfikirnya Allah tentang dzatnya sebagaimana kata Sayyed Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya (al-Qudrah) yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya[20]

Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat : sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya atau necessary by virtual of the necessary being and possible in essence. Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran : Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya[21]
Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal  - akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa - jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa - jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.

Segi - segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :
1.           Segi fisika yang membicarakan tentang macam - macamnya jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan - kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain - lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.
2.           Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa[22].

Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bahagian :
1 .     Jiwa tumbuh - tumbuhan dengan daya - daya  :
-           Makan (nutrition )
-           Tumbuh (growth )
-           Berkembang biak (reproduction )

2 .     Jiwa binatang dengan daya - daya  :
-           Gerak (locomotion )
-           Menangkap (perception) dengan dua bagian  :
-           Menagkap dari luar dengan panca indera
-           Menangkap dari dalam dengan indera - indera dalam.
-           Indera bersama yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera
-           Representasi yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama
-           Imaginasi yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi
-           Estimasi yang dapat menangkap hal - hal abstraks yang terlepas dari materi umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala.
-           Rekoleksi yang menyimpan hal - hal abstrak yang diterima oleh estimasi.

3 .     Jiwa manusiadengan daya - daya  :
-      Praktis yang hubungannya dengan badanTeoritis yang hubungannya adalah dengan hal - hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan :
a.         Akal materiil yang semata - mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.
b.        Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal - hal abstrak.
c.         Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal - hal abstrak.
d.        Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal - hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya[23].

Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh - tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.

Menurut Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi - fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berfikir[24].

Sedangkan menurut al-Ghazali di dalam buku – buku filsafatnya dia menyatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap tidak berubah – ubah yaitu al-Nafs atau jiwanya[25]. Adapun yang dimaksud tentang al-Nafs adalah “substansi yang berdiri sendiri yang tidak bertempat”. Serta merupakan “tempat bersemayam pengetahuan – pengetahuan intelektual (al-ma’qulat) yang berasal dari alam al-malakut atau al-amr. Hal ini menunjukkan bahwa esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisiknya. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat, sedangkan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, karena keberadaannya tergantung kepada fisik. Sementara dalam penjelasannya yang lain, al-Ghazali menegaskan bahwa manusia terdiri atas dua substansi pokok, yakni substansi yang berdimensi dan substansi yang tidak berdimensi, namun mempunyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Substansi yang pertama dinamakan badan (al-jism) dan substansi yang kedua disebut jiwa (al-nafs).[26]

Jiwa (al-Nafs) memiliki daya – daya sebagai derivatnya dan atas dasar tingkatan daya – daya tersebut, pada diri manusia terdapat tiga jiwa (al-nufus al-tsalatsah) :
Pertama jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah) merupakan tingkatan jiwa yang paling rendah dan memiliki tiga daya 1) daya nutrisi (al-ghadiya), 2) daya tumbuh (al-munmiyah) dan 3) daya reproduksi (al-muwallidah), dengan daya ini manusia dapat berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak sebagaimana tumbuh – tumbuhan.

Kedua, jiwa hewani/sensitive (al-nafs al-hayawaniyah) yang memiliki dua daya  1) daya penggerak (al-mukharikah) dan 2) daya persepsi (al-mudrikah). Pada penggerakn (almukharikah) terdapat dua daya lagi yaitu 10 daya pendorong (al-baitsah) dan 2) daya berbuat (al-fa’ilah). Hubungan antara daya pertama dengan daya kedua sebagaimana hubungan daya potensi dan aktus, tetapi keduanya bersifat potensial sebelum mencapai aktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan. Karena itu al-Ghazali menyebut yang pertama iradah dan yang kedua qudrah.

Ketiga, jiwa rasional (al-nafs al-natiqah). Mempunyai dua daya !) daya praktis (al-‘amilah) dan 20 daya teoritis (al-alimah). Yang pertama berfungsi menggerakkan tubuh melalui daya – daya jiwa sensitive / hewani. Sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teorities. Yang dimaksud akal teoritis adalah al-‘alimah, sebab jiwa rasional disebut juga al ‘aql. Al-‘alimah disebut juga akal praktis. Akal praktis merupakan saluran yang menyampaikan gagasan akal teoritis kepada daya penggerak[27].

Al-Ghazali didalam Tahafut al-Falasifah menyangkal 20 buah kesalahan para filosof muslim beserta pendahulu – pendahulu mereka yang berpaham teistik di Yunani. Para filosof yang disangkal oleh al-Ghazali ini terbagi kedalam tiga kelompok[28] :
1.         Filosof – filosof materialistik (dahriyyun )
Mereka adalah ateis – ateis yang menyangkal adanya Allah dan merumuskan kekekalan alam dan terciptanya alam dengan sendirinya.

2.         Filosof – filosof naturalis atau desitik (thabi’iyyun ).
Mereka melaksanakan berbagai riset di dalam alam semesta dan segala sesuatu yang menakjubkan di dalam dunia binatang dan tumbuh – tumbuhan. Melalui riset-riset itu mereka cukup banyak menyaksikan keajaiban – keajaiban di dalam ciptaan  Allah dan mereka menemukan kebijaksanaan-Nya sehingga akhirnya mereka mau tak mau mengakui adanya satu pencipta yang Maha Bijaksana. Walaupun demikian mereka tetap menyangkal adanya hari pengadilan, kebangkitan kembali dan kehidupan akhirat. Mereka tidak mengenal pahala dan dosa, karenanya mereka memuaskan nafsu – nafsu mereka seperti binatang.

3.         Filosof – filosof teis (ilahiyyun ).
Mereka adalah filosoh – filosof Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Aristoteles telah mengkritik filosof – fiosof teis sebelumnya, termasuk Socrates dan Plato. Walaupun begitu, menurut al-Ghazali, Aristoteles masih mempertahankan sisa – sisa kekafiran dan kebid’ahan mereka  yang tak berhasil dilepaskannya.

Filsafat Aristoteles seperti yang disebarluaskan oleh penerjemah – penerjemah dan komentator – komentator karyanya (pengikutnya) khususnya al-Farabi dan Ibnu Sina terbagi ke dalam 3 kelompok:
a.         Filsafat – filsafatnya yang harus dipandang kufur.
b.         Filsafat – filsafatnya yang menurut Islam adalah bid’ah.
c.          Filsafat – filsafatnya yang sama sekali tak perlu disangkal.
Tiga masalah yang menyebabkan kufur tersebut adalah :
Pertama, bahwa Allah hanya mengetahui hal – hal yang besar – besar dan tidak mengetahui hal – hal yang kecil - kecil[29].
Kedua,    bahwa alam ini azali atau kekal, tanpa permulaan[30].
Ketiga,    bahwa di akhirat kelak yang dihimpun adalah ruh manusia bukan jasadnya[31]
Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa yaitu
:
1.         Dalil alam - kejiwaan (natural psikologi ).
2.         Dalil Aku dan kesatuan gejala - gejala kejiwaan.
3.         Dalil kelangsungan (kontinuitas ).
4.         Dalil orang terbang atau orang tergantung di udara [32]

Dalil – dalil tersebut apabila diuraikan satu persatu adalah sebagai berikut :
1 .     Dalil Alam Kejiwaan
Pada diri kita ada peristiwa yang tidak mungkin di tafsirkan kecuali sesudah mengakui adanya jiwa. Peristiwa – peristiwa tersebut adalah gerak dan pengenalan (idrak, pengetahuan). Gerak ada dua macam yaitu :
1)       Gerak paksaan (harakah qahriah) yang timbul sebagai akibat dorongan dari luar dan yang menimpa sesuatu benda kemudian menggerakkannya.
2)       Gerak bukan paksaan, dan gerak ini terbagi menjadi dua yaitu  :
a.            Gerak sesuai dengan ketentuan hukum alam, seperti jatuhnya batu dari atas ke bawah.
b.           Gerak yang  terjadi dengan melawan hukum alam, seperti manusia yang berjalan di bumi, sedang berat badannya seharusnya menyebabkan ia diam, atau seperti burung yang terbang menjulang di udara, yang seharusnya jatuh (tetap) di sarangnya di atas bumi. Gerak yang berlawanan dengan ketentuan alam tersebut menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur – unsur benda yang bergerak. Penggerak tersebut ialah jiwa.

Pengenalan (pengetahuan) tidak dimiliki oleh semua mahluk, tetapi hanya di miliki oleh sebagiannya. Yang memiliki pengenalan ini menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan lain yang tidak terdapat pada lainnya. Begitulah isi dalil natural-psikologi dari Ibnu Sina yang didasarkan atas buku De Anima (Jiwa) dan Physics, kedua – duanya dari Aristoteles.

Namun dalil Ibnu Sina tersebut banyak berisi kelemahan – kelemahan antara lain bahwa natural (physic) pada dalil tersebut dihalalkan. Dalil tersebut baru mempunyai nilai kalau sekurangnya benda – benda tersebut hanya terdiri dari unsur – unsur yang satu maca, sedang benda – benda tersebut sebenarnya berbeda susunannya (unsur – unsurnya). Oleh karena itu maka tidak ada keberatannya untuk mengatakan bahwa benda – benda yang bergerakmelawan ketentuan alam berjalan sesuai dengan tabiatnya yang khas dan berisi unsur – unsur yang memungkinkan ia bergerak. Sekarang ini banyak alat – alat (mesin ) yang bergerak dengan gerak yyang berlawanan dengan hukum alam, namun seorang pun tidak mengira bahwa alat – alat (mesin – mesin) terseut berisi jiwa atau kekuatan lain yang tidak terlihat dan yang menggerakkannya. Ulama – ulama biologi sendiri sekarang menafsirkan fenomena kehidupan dengan tafsiran mekanis dan dinamis, tanpa mengikut sertakan kekuatan psikologi (kejiwaan).

Nampaknya Ibnu Sina sendiri menyadari kelemahan dalil tersebut. Oleh karena itu dalam kitab – kitab yang dikarang pada masa kematangan ilmunya, seperti al-syifa dan alIsyarat, dalil tersebut disebutkan sambil lalu saja, dan ia lebih mengutamakan dalil-dalil yang didasarkan atas segi – sehi pikiran dan jiwa, yang merupakan genitalianya Ibnu sina.[33]

2.    Dalil Aku dan Kesatuan Gejala Kejiwaan.
Menurut Ibnu Sina apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika kita mengatakan saya keluar atau saya tidur, maka bukan gerak kaki, atau pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita.[34]

3.    Dalil Kelangsungan (kontinuitas ).
Dalil ini mengatakan bahwa masa kita yang sekarang berisi juga masa lampau dan masa depan. Kehidupan rohani kita pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan kita yang kemarin, dan hubungan ini tidak terputus oleh tidur kita, bahkan juga ada hubngannya dengan kehidupan kita yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Kalau kita ini bergerak dalam mengalami perubahan, maka gerakan – gerakan dan perubahan tersebut bertalian satu sama lain dan berangkai – rangkai pula. Pertalian dan perangkaian ini bisa terjadi karena peristiwa – peristiwa jiwa merupakan limphan dari sumber yang satu dan beredar sekitar titik tarik yang tetap.
Ibnu Sina dengan dalil kelangsungan tersebut telah membuka ciri kehidupan pikiran yang paling khas dan mencerminkan penyelidikan dan pembahasannya yang mendalam, bahkan telah mendahului masanya beberapa abad, karena pendapatnya tersebut dipegangi oleh ilmu jiwa modern dan telah mendekati tokoh – tokoh pikir  masa sekarang.[35]

4.    Dalil Orang Terbang atau Tergantung di Udara.
Dalil ini adalah yang terindah dari Ibnu Sina dan yang paling jelas menunjukkan daya kreasinya. Meskipun dalil tersebut didasarkan atas perkiraan dan khayalan, namun tidak mengurangi kemampuannya untuk memberikan keyakinan. Dalil tersebut mengatakan sebagai berikut : “Andaikan ada seseorang yang mempunyai kekuatan yang penuh, baik akal maupun jasmani, kemudian ia menutup matanya sehingga tak dapat melihat sama sekali apa yang ada di sekelilingnya kemudian ia diletakkan di udara atau dalam kekosongan, sehingga ia tidak merasakan sesuatu persentuhan atau bentrokan atau perlawanan, dan anggota – anggota badannya diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai saling bersentuhan atau bertemu. Meskipun ini semua terjadi namun orang tersebut tidak akan ragu – ragu bahwa dirinya itu ada, meskipun ia sukar dapat menetapkan wujud salah satu bagian badannya. Bahkan ia boleh jadi tidak mempunyai pikiran sama sekali tentang badan, sedang wujud yang digambarkannya adalah wujud yang tidak mempunyai tempat, atau panjang, lebar dan dalam (tiga dimensi). Kalau   pada saat tersebut ia mengkhayalkan (memperkirakan) ada tangan dan kakinya. Dengan demikian maka penetapan tentang wujud dirinya, tidak timbul dari indera atau melalui badan seluruhnya, melainkan dari sumber lain yang berbeda sama sekali dengan badan yaitu jiwa.

Dalil Ibnu Sina tersebut seperti halnya dengan dalil Descartes, didasarkan atas suatu hipotesa, bahwa pengenalan yang berbeda – beda mengharuskan adanya perkara – perkara yang berbeda – beda pula. Seseorang dapat melepaskan dirinya dari segala sesuatu, kecuali dari jiwanya yang menjadi dasar kepribadian dan dzatnya sendiri. Kalau kebenaran sesuatu dalam alam ini kita ketahui dengan adanya perantara (tidak langsung), maka satu kebenaran saja yang kita ketahui dengan langsung, yaitu jiwa dan kita tidak bisa meragukan tentang wujudnya, meskipun sebentar saja, karena pekerjaan – pekerjaan jiwa selamanya menyaksikan adanya jiwa tersebut.

iklan