ads head

Advertisement

Jumat, 27 April 2018

Hedonisme Menurut Kaum Epicurean

Meski demikian kemustahilan tersebut bukanlah konsekuensilogis namun hanya kontingen. Dalam hal ini tidak ada hubungan langsung antara mabuk dan rasa sakit ketika bangun di pagi hari atau seks bebas dan AIDS. Kenikmatan-kenikmatan tersebut menyebabkan rasa sakit hanya karena begitulah dunia menganggapnya. Implikasi ini menunjukkan kelemahan konsepsi kehidupan yang baik menurut kaum Cyrenaic yang tidak memberikan tempat terhormat pada kenikmatan, namun karena mereka hanya memberikan tempat terhormat pada jenis kenikmatan tertentu, yaitu kenikmatan jasmani, inilah yang diamati oleh filusuf Yunani kuno bernama Epikuros yang namanya diabadikan sebagai nama dari salah satu jenis hedonisme-Epicureanisme (kita tahu bahwa penamaan ini agak keliru karena sebenarnya minat utamanya adalah ada persoalan filosofis lain).

Hedonisme versi Epicurean ini bisa kita temukan dalam perkataan sehari-hari. Seorang “epicurean” adalah seseorang yang menikmati hal-hal baik dari kehidupan-anggur yang baik, makanan yang baik, perusahaan yang baik, model pakaian elegan dan lainnya-dan menggunakan kata ini merefleksikan pandangan kaum Epicurean yang menyatakan bahwa jika kehidupan dipenuhi dengan kenikmatan yang, lazimnya, tidak disertai rasa sakit. Dengan demikian, kenikmatan-kenikmatan tersebut merupakan kenikmatan yang relatif lembut dan halus-anggur yang baik namun tidak terlalu banyak, makanan lezat yang menarik bagi para pencicip rasa masakan bukan para penggemar masakan, music dan drama yang bagus namun yang tidak mengurangi emosi, dan sebagainya.Faktanya, seperti diindikasikan oleh contoh-contoh tersebut, filsafat kenikmatan dan hidup yang baik menurut Epicurean sangat berbeda dengan konsepsi umum mengenai hedonisme karena filsafat ini tidak mengandung sifat yang berlebihan.Alih-alih filsafat tersebut justru menuntut para penganutnya untuk menjauhi banyak hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai kenikmatan.

Tentu saja, hal itu karena filsafat tersebut menyatakan bahwa hanya kenikmatan-kenikmatan lembut dan halus yang tidak disertai rasa sakit yang bisa mengisi kehidupan. Namun, pada saat yang sama, muncul pertanyaan apakah bisa disebut  kenikmatan jika ternyata masih ada batasan. Secara alamiah, kita tidak membatasi diri kita untuk meminum satu atau dua gelas anggur terbaik.Sementara ada banyak orang yang justru mendapat kenikmatan saat mendengarkan kegaduhan dan irama music rock dan Heavy Metal ketimbang ketika mendengarkan harmoni memikat dari komposisi Minuet karya Boccherini.Ini memunculkan pertanyaan penting.Jika Epicureanisme mengajukan kenikmatan yang harus kita pelajari untuk mendapatkannya, dapatkah Epicureanisme mengklaim seruan “alamiah” yang justru merupakan keunggulan hedonisme dari filsafat lainnya? Dalam Epicurean, ekses-ekses hedonisme Cyrenaic dikurangi. Namun, jika Epicureanisme meminta kita untuk melepaskan kenikmatan dan rasa sakit “alamiah”, maka kenikmatan yang didapat lebih kecil ketimbang kehilangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iklan